Beberapa Cara Mengatasi Ketegangan Antara Orangtua dan Anak Pasca Konflik

0
71
Beri ruang menyendiri pasca konflik

Jika ada cara untuk menghindari pertentangan, pertengkaran, konflik atau perkelahian, maka ada juga cara untuk mengatasi efek lanjutan yang ditimbulkan permusuhan dan ketegangan yang terjadi sesudahnya. Hal ini terjadi hampir dalam setiap hubungan orangtua dan anak, khususnya pada anak remaja.
Sudah sangat jelas bahwa sebenarnya normal untuk merasa kesal setelah bertengkar dengan anak remaja Bunda. Namun, penting juga untuk diingat bahwa setiap orang menghadapi akibat dari pertengkaran dengan cara-cara mereka sendiri.
Berikut adalah beberapa langkah untuk meredakan ketegangan pasca pertengkaran dengan anak remaja:

Beri waktu

Beri ruang menyendiri pasca konflik

Beri diri Bunda dan anak Bunda ruang yang dibutuhkan untuk mendapatkan kembali keseimbangan setelah terjadinya sebuah konflik. Toleransilah ketegangan tanpa merasa bahwa Bunda harus membuat anak remaja Bunda merasa segera melunak dan membaik lagi.

Jangan memaksakan kehendak agar anak remaja Bunda segera berdamai dengan Bunda. Sangat penting untuk berurusan dengan perasaan Bunda sendiri pasca konflik. Bunda harus mulai memulihkan kondisi psikis Bunda sendiri sebelum memikirkan langkah terbaik yang mesti ditempuh selanjutnya.

Biarkan anak tahu perasaan Bunda

biarkan anak tau perasaan bunda

Jika anak remaja Bunda menyakiti Bunda dengan serangan verbal, tidak apa-apa untuk mengatakan kepadanya bahwa Bunda terluka oleh kata-kata dan tindakannya. Mungkin perlu beberapa saat bagi Bunda untuk mulai berinteraksi dengannya lagi, dan sedikit jeda itu tidak apa-apa.

Ingatlah bahwa tidak semua hal perlu ditangani setiap saat. Misalnya, jika Bunda merasa jelas tidak melakukan apa pun selain menetapkan beberapa aturan yang dilanggar anak, Bunda tidak perlu meminta maaf atau segera membuka kembali diskusi saat itu juga. Namun, jangan berubah pikiran untuk meredakan ketegangan.

Di waktu yang lebih tepat, tidak ada yang lebih perlu diberikan selain pernyataan empati seperti, “Saya berharap keadaannya berbeda dan saya bisa membiarkan kamu pergi bersama teman-temanmu. Tapi kali ini bukan itu masalahnya. Saya tahu betapa kamu ingin pergi dan saya minta maaf untuk itu.”

Biarkan anak Bunda mengetahui perasaan kecewa atau frustrasi Bunda — dan berusahalah untuk mentolerir perasaan bersalah dan tidak nyaman Bunda sendiri. Ingatkan diri Bunda bahwa perasaan itu bersifat sementara.

Abaikan perlakuan bisu Anak

abaikan perlakuan bisu anak

Jika anak Bunda memberi Bunda perlakuan diam atau membisu, Bunda tidak harus ikut membisu. Bicaralah padanya jika Bunda merasa siap untuk berdiskusi — tanpa marah padanya.

Meskipun Bunda mungkin tidak mendapatkan jawaban darinya, Bunda dapat mengatakan, “Wah, sepertinya Bunda belum siap untuk berbicara dengan saya.” Dan kemudian lanjutkan aktivitas Bunda yang sempat tertunda, lanjutkan diskusinya jika keadaannya tepat.

Jangan menyimpan dendam

jangan menyimpan dendam

Terkadang orang tua bisa menyimpan dendam. Mereka mungkin merasa jijik dan marah dengan sesuatu yang dilakukan anak mereka sehingga mereka menahan kemarahan itu. Bagaimana Bunda tahu jika Bunda menyimpan dendam secara tidak adil?

Bunda hanya harus terus menanyai diri sendiri dan bertanggung jawab atas apa yang Bunda rasakan. Jika pertengkaran berakhir dan Bunda terus menunjukkan sikap dingin, atau Bunda memilih terus mendebat dan bersikap kritis tanpa alasan, itu adalah tBunda-tBunda bahwa Bunda belum mengenyahkan dendam sepenuhnya — ada beberapa perasaan marah yang belum lenyap di sana.

Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk mengakui bahwa ada ketegangan yang belum usai. Jadi, cek diri Bunda sendiri, lihat bagaimana Bunda bertindak, dan amati apa yang Bunda lakukan. Pikirkan mengapa ada ketegangan, dan kemudian atasi jika perlu ditangani.

Jangan mengabaikan ketegangan pasca konflik

Jangan mengabaikan ketegangan pasca konflik

Jangan mencoba menyingkirkan perasaan negatif anak Bunda dengan mengabaikannya atau mencoba menghiburnya ketika dia masih marah. Juga, jangan berdebat tentang siapa yang benar atau salah.

Banyak orang tua merasakan ketegangan ketika mereka tahu anak mereka marah pada mereka dan mereka mencoba untuk membuatnya lebih baik dengan berpura-pura tidak ada yang terjadi atau dengan menjadi ceria tapi palsu dan dibuat-buat. Situasi itu hanya lebih sering berakhir dengan memperburuk keadaan.

Ketika Bunda merasa buruk dan ingin semuanya baik-baik saja — dan Bunda tidak membiarkan anak remaja Bunda memiliki ruang untuk itu — itu tidak adil baginya. Alih-alih melakukan itu, cobalah berkata, “Saya tahu kamu merasa marah setelah kekacauan ini. Begitu juga aku. Ketika kita merasa situasinya sudah lebih baik, kuharap kita berdua bisa membicarakannya.”

Oh iya, Bunda, jangan terus membahas tentang konflik atau pertengkaran setelah itu terjadi, karena hanya akan berakhir pada siapa benar/salah. Tawarkan penyelesaian yang adil dan mulailah bertransisi ke topik yang akhirnya Bunda dan anak bisa diskusikan dengan perasaan damai, seperti rencana liburan bersama atau makan bersama di beberapa lokasi favorit. [SJF]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini