Beberapa Alasan di Balik Kebiasaan Anak Bunda Berbohong

0
48
ANAK BERBOHONG

Pada satu kasus, kita sebagai orang tua biasanya akan berbohong pada anak untuk meminimalisir informasi sensitif terserap ke otaknya. Misalnya, anak Bunda mempertanyakan aturan yang Bunda buat di rumah yang membatasinya menonton TV tengah malam. Meski untuk alasan kesehatan, Bunda terpaksa mengatakan bahwa menonton TV sendirian di tengah malam mengundang banyak hantu turut menonton. Bunda menyadari alasan kesehatan tidak membuatnya lantas mematuhi aturan. Tapi, bagaimana jika malah anak Bunda yang berbohong? Apa yang menyebabkannya?

Hmm, kita harus pahami bersama bahwa pada anakanak, berbohong adalah keterampilan memecahkan masalah yang salah. Sebagian besar anakanak berbohong karena situasi, masalah atau konflik. Adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mengajar anakanak kita bagaimana menyelesaikan masalah itu dengan cara yang lebih konstruktif. Berikut adalah beberapa alasan mengapa anakanak berbohong.

Untuk membangun identitas

Salah satu alasan anakanak menggunakan kebohongan adalah ingin membangun identitas pada dirinya untuk terhubung dengan teman sebayanya. Berbohong juga bisa menjadi respon terhadap tekanan teman sebayanya. Anak Bunda mungkin berbohong kepada teman-temannya tentang hal-hal luar biasa yang telah dilakukannya sehingga ia benar-benar menganggap dirinya telah begitu mengesankan. Ia mungkin akan berbohong mengenai dirinya yang begitu bebas di rumah, atau dia bisa menonton TV hingga subuh, atau mengenai dirinya yang tidak perlu repot mengerjakan PR.

Untuk memisahkan diri dari bayang-bayang orang tua

Terkadang remaja menggunakan kebohongan untuk memisahkan bagian-bagian dari kehidupan mereka dari pengaruh orang tua mereka. Kadang-kadang mereka membuat kebohongan kecil tentang hal-hal yang bahkan tampaknya tidak begitu penting.

Alasan lain mengapa anakanak berbohong adalah ketika mereka menganggap aturan dan batasan di rumah terlalu ketat. Jadi misalkan Bunda memiliki anak perempuan berusia 16 tahun yang tidak diizinkan memakai make-up, tetapi semua temannya memakainya. Jadi dia berusaha memakainya di luar rumah, lalu berbohong kepada Bunda tentang hal itu, jika ia tak melakukannya.

Berbohong mungkin menjadi cara baginya untuk membuat Bunda yakin dia mengikuti aturan dan masih melakukan aktivitas remaja perempuan yang “normal” meski tidak sedang dalam pengawasan Bunda secara langsung.

Untuk mendapat perhatian

Ketika anak Bunda masih kecil dan kebohongan sepertinya tidak begitu penting, perilaku ini mungkin hanya merupakan cara baginya untuk mendapatkan sedikit perhatian. Ketika seorang anak kecil berkata, “Bu, saya baru saja melihat burung Garuda terbang di dekat jendela,” maka jelas ia hanya ingin mendapatkan perhatian Bunda.

Konteksnya akan sangat berbeda dengan anak yang lebih tua yang mengatakan, “Saya telah menyelesaikan pekerjaan rumah saya, saya ingin main,” padahal sebenarnya dia tidak mengerjakan apa-apa.

Untuk menghindari menyakiti perasaan orang lain

Pada titik tertentu, kebanyakan orang belajar cara meminimalkan sesuatu agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Daripada mengatakan, “Saya pikir sepatu baru Anda sedikit mencolok,” kita mungkin lebih memilih mengatakan, “Sepatu Anda itu sepertinya cukup trendi sekarang ini.”

Tetapi anakanak tidak memiliki pola pemikiran yang sama seperti orang dewasa, jadi seringkali lebih mudah bagi mereka untuk berbohong. Saya pikir sebagai orang dewasa, kita belajar bagaimana mengatakan sesuatu dengan lebih hati-hati; kita semua tahu cara meminimalkan rasa sakit. Tetapi anakanak tidak tahu bagaimana melakukan itu.

Berbohong adalah langkah pertama untuk mempelajari cara mengatakan sesuatu dengan lebih hati-hati. Dalam beberapa hal, kita bahkan secara sadar atau tidak telah mengajari mereka cara berbohong ketika mengatakan, “Beri tahu Nenek, kamu menyukai hadiah ini, bahkan jika kamu tidak suka, karena itu akan melukai perasaannya.” Kita mungkin memiliki alasan yang dapat dibenarkan — tidak ingin membuat siapapun terluka. Tetapi kita telah sengaja mengajari anakanak kita cara membalikkan kebenaran dengan sedikit kebohongan.

Untuk menghindari masalah

Kebanyakan anakanak berbohong pada satu waktu untuk keluar dari masalah tertentu. Katakanlah anak Bunda mengalami luka-luka setelah jatuh dari sepeda saat bersinggungan dengan sepeda temannya yang lain ketika mereka sedang balapan. Ia akan berbohong bahwa ia terjatuh karena tidak sengaja menyenggol batu besar atau remnya yang tidak berfungsi. Itu ia lakukan untuk menghindari semua konsekuensi yang mungkin akan menyebabkan ia dihukum oleh Bunda.

Sebagai catatan, alasan keseluruhan mengapa anakanak berbohong adalah karena mereka tidak memiliki cara lain untuk menghadapi masalah atau konflik. Bahkan, kadang-kadang itu satu-satunya cara yang mereka tahu bagaimana menyelesaikan masalah; itu hampir seperti sebuah ‘keterampilan bertahan hidup yang salah’ untuk anakanak. Bukan sepenuhnya sebagai kesalahan mutlak bagi anakanak.

Kita harus percaya bahwa itu benar-benar tugas orang tua untuk membedakan jenis kebohongan yang diluapkan oleh anak, dan untuk memastikan bahwa itu tidak berhubungan dengan perilaku yang tidak aman, ilegal atau berisiko. Jika Bunda melihat anak Bunda berkata kepada anak lain, “Oh saya sangat suka gaun itu,” dan mereka kemudian memberi tahu Bunda di rumah bahwa, “Saya benar-benar tidak suka gaun itu,” maka Bunda mungkin sebaiknya mengatakan sesuatu kepada mereka, atau mungkin juga membiarkannya saja terus berbicara tentang pendapatnya yang murni.

Tapi, jika mereka berbohong tentang sesuatu yang berisiko atau ilegal atau benar-benar tidak aman, Bunda harus memastikan dapat segera mengatasinya. Dan jika itu benar-benar signifikan sebagai kebohongan tentang perilaku seksual berisiko, narkoba, atau kegiatan berbahaya lainnya, maka Bunda mungkin perlu sesegera mungkin mencari bantuan seorang ahli atau profesional. [SJF]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini