7 Cara untuk Memotivasi Anak Bunda agar Lebih Baik di Sekolah

0
35

Bagaimana Bunda memotivasi seorang anak yang tampaknya tidak ingin melakukan pekerjaan sekolahnya?

Sebagai orang tua, kita berinvestasi dalam kehidupan akademik anak kita karena kita tahu betapa pentingnya masa depan mereka. Anak-anak kita harus termotivasi untuk melakukannya dengan baik. Bagaimanapun, itu demi kepentingan mereka sendiri untuk melakukannya dengan baik. Meskipun demikian, anakanak kita masih tetap harus bergaul dengan teman.

Sekolah adalah aspek kehidupan yang membutuhkan kedisiplinan dan anakanak perlu belajar untuk mencapai nilai terbaik dari perjuangan dan usahanya. Anak Bunda harusnta telah memiliki kemampuan untuk melakukan sendiri dengan baik. Namun, Itu tidak bisa dipaksakan. Bahkan, jika Bunda menekan anak dalam upaya memotivasi, itu hampir selalu membuat segalanya akhirnya menjadi lebih buruk.

MENGAJARKAN ANAK SENANG KE SEKOLAH

Meskipun demikian, ada langkah-langkah positif yang dapat diambil untuk membantu anak Bunda sehingga memotivasi dirinya untuk berbuat lebih baik di sekolah. Sebagian besar langkah-langkah ini melibatkan bangunan struktur dan strategi khusus untuk memungkinkan dia memiliki sikap disiplin dan tindak lanjut yang lebih baik. Ini meningkatkan peluang keberhasilan anak Bunda dan rasa keberhasilan sering kali menjadi pendorong motivasi yang berkelanjutan.

Debbie Pincus, MS LMHC  dalam interaksinya dengan orang tua dan anakanak selama bertahun-tahun, telah menemukan setidaknya 7 tips berikut yang cukup berhasil membantu menempatkan anak Bunda pada posisi terbaik untuk sukses dan termotivasi.

1. Tetap Positif

Jaga hubungan dengan anak Bunda agar tetap terbuka, penuh hormat, dan positif. Ingatkan diri Bunda bahwa Bunda dan anak berada di tim yang sama. Ini akan memungkinkan Bunda untuk menjadi berpengaruh, yang merupakan alat pengasuhan Bunda yang paling penting.

Menghukum, berkhotbah, dan mengancam akan membuat Bunda akan merusak hubungan dan motivasi utama mereka. Perasaan cemas, frustrasi, dan takut Bunda itu normal dan dapat dimengerti. Tetapi bereaksi terhadap anakanak secara negatif yang energinya timbul dari emosi-emosi tak terkendali ini tidak efektif dan membuat segalanya menjadi lebih buruk.

Ingat, tugas Bunda adalah membantunya belajar bagaimana bertanggung jawab. Jika Bunda menjadi negatif dan menjadikan ini masalah moral, maka anak Bunda mungkin menjadi penentang, bereaksi berlebihan terhadap Bunda alih-alih dapat mengontrolnya.

2. Masukkan Aturan “Jika Kamu”

Salah satu pelajaran hidup adalah kita dibayar setelah melakukan pekerjaan. Jadi mulailah mengatakan hal-hal seperti:

“Ketika kamu selesai belajar kamu dipersilakan untuk pergi ke rumah temanmu.”

Atau:

“Ketika pekerjaan rumah kamu selesai, kita dapat mendiskusikan soal menonton film yang ingin kamu tonton di Netflix.”

Tegakkan aturan ini dan memintanya mematuhi itu. Jika anak Bunda belum memiliki disiplin yang diharapkan, ini akan membantu menciptakannya.  Ini membantunya belajar bagaimana melakukan apa yang otaknya belum siap untuk lakukan, yang harus didisiplinkan dan untuk menunda kepuasan. Namun, perlu dicatat, usahakan ini tak membuatnya menjadi pragmatis. Terapkan ini untuk hal yang mendesak. Jangan melakukannya terlalu sering

3. Buat Skema atau Struktur untuk Anak Bunda

Jika anak Bunda tidak belajar dan nilainya menurun, Bunda memiliki hak untuk terlibat terlepas apakah dia menginginkannya atau tidak. Sekali lagi, Bunda tidak ada di situ untuk melakukan pekerjaan untuknya. Sebaliknya, Bunda ada di situ untuk membantu mengatur struktur yang belum dapat ia buat sendiri.

Strukturnya mungkin termasuk waktu belajar yang dijadwalkan, mengeluarkan komputer di tempat yang lebih umum untuk diakses di rumah, dan mengatakan, “Tidak ada video game atau akses ke perangkat-perangkat sampai pekerjaan rumah selesai.”

Pahami bahwa struktur ini bukan hukuman. Sebaliknya, ini adalah cara untuk membantunya mengembangkan etika kerja yang baik dan fokus pada mata pelajaran sekolahnya.

4. Bertemu Dengan Sang Guru

Jika nilai dan kebiasaan kerja anak tidak normal, Bunda dapat membuat rencana dengan duduk bersama dengan guru-gurunya.

Mintalah pada gurunya setiap hari sebelum pulang untuk memastikan bahwa ia memiliki semua pekerjaan rumahnya.

Juga, Bunda dapat memintanya setiap pagi untuk memastikan bahwa ia membawa pekerjaan rumahnya kembali ke sekolah. Tidak ada yang lebih membuat frustrasi daripada anak ketika mengerjakan pekerjaan rumahnya, tetapi kemudian lupa membawanya ke sekolah.

Setelah anak menjadi lebih baik dalam mengatur waktunya, menyelesaikan pekerjaannya, dan mengatur diri, maka inilah saatnya bagi Bunda untuk mundur. Biarkan dia melakukannya sendiri. Melangkahlah lebih dalam jika dia secara konsisten memiliki masalah.

5. Identifikasi Tempat Studi

Mungkin perlu duduk dengan anak Bunda saat dia melakukan pekerjaannya atau setidaknya berada di dekatnya untuk membantunya tetap di jalur yang tepat. Dia mungkin membutuhkan lokasi yang tenang, jauh dari saudara-saudari atau dia bisa melakukan yang lebih baik di sebuah ruangan di dekat orang lain. Bunda dapat membantunya bereksperimen. Tetapi begitu Bunda menemukan yang paling berhasil, simpan dia di lokasi itu.

Jangan kerjakan pekerjaannya, tetapi Bunda mungkin perlu meninjau pekerjaannya dan bertanya padanya apakah paragraf tertentu masuk akal baginya, misalnya.

6. Jadikan Tugas Menjadi Bagian yang Dapat Dikelola

Putuskan bersama apakah akan bermanfaat bagi anak Bunda jika membantunya memecah tugasnya menjadi potongan-potongan kecil dan mengatur dalam kalender apa yang harus dia lakukan setiap hari.

Bunda bisa memberinya kalender besar di dinding atau papan tulis. Bunda mungkin juga mendapatkan bantuan tambahan dari gurunya atau mendapatkan tutor untuknya jika itu sesuai.

7. Bersikaplah Tegas

Bunda ingin tetap menjadi positif dan membantu anak. Namun, pada saat yang sama, Bunda harus tegas. Bunda harus secara konsisten menegakkan aturan yang Bunda buat. Bersikap tegas dan konsisten mengirimkan pesan kepada anak bahwa Bunda tahu dia bisa berhasil.

Bersikap tegas juga berarti Bunda tidak melindungi anak Bunda dari konsekuensi perilakunya . Jika dia tidak mengikuti aturan yang Bunda buat, terapkan konsekuensinya. Dan jangan mencoba melindunginya dari konsekuensi tidak melakukan pekerjaannya, bahkan jika itu berarti nilai buruk atau gagal. Tapi ingat, Bunda jangan pernah mengidentikkan tegas dengan ‘kejam’. [SFJ]

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini