6 Cara Mendidik Balita Agar Disiplin Sejak Belia

0
36

Mendidik untuk mendisiplinkan anak sejak balita adalah tugas orangtua yang lumayan rumit dan memerlukan kesabaran. Alasannya, usia balita merupakan masa di mana si kecil masih ingin bebas melakukan hal sesukanya dan sebebas kehendaknya.
Cara yang ditempuh setiap orangtua pun berbeda-beda. Ada orang tua yang lebih sabar, tapi ada pula yang cenderung marah-marah atau bahkan melibatkan kekerasan seperti menjewer, memukul, atau membentak dan memarahi hingga yang paling buruk, mengabaikannya.
Memilih metode-metode mendidik yang keliru saat mendisiplinkan anak malah bisa membuat anak semakin membangkang dan lalai dari tanggung jawab. Daripada dengan kekerasan yang membuang-buang energi, lebih baik menggunakan metode yang lebih halus, persuasif, tapi fokus dan ampuh mendidik dan mendisiplinkan kepribadian anak. Berikut adalah beberapa cara dan metode yang diperlukan:

1. Perlunya konsistensi dan keberlanjutan

Menurut seorang spesialis perkembangan anak, Claire Lerner, menjelaskan bahwa sejak usia 2 sampai 3 tahun, anakanak bekerja keras untuk memahami bagaimana perilaku mereka memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Ia mengatakan jika pola asuh yang diterapkan secara rutin dan konsisten dapat membuat anak merasa lebih aman dan terlindungi. Anak menjadi tahu apa yang diharapkan oleh orangtuanya.
Lakukan berkali-kali, hingga anak Anda mengerti perintah yang Anda berikan. Si kecil akan menyerap perintah dan belajar melakukan hal yang sama setelah empat atau lima kali kejadian yang siklusnya berputar.

2. Perlunya memahami pemicu tantrum

Tantrum merupakan kejadian yang wajar dan biasa terjadi pada setiap anak. Setiap orangtua harus tahu betul apa yang membuat anaknya tantrum dan rewel. Kebanyakan anak, memang akan memiliki emosi yang meledak-ledak saat merasa lapar atau mengantuk. Nah, baiknya hindari waktu-waktu seperti ini saat Bunda ingin menganjurkan kedisplinan tinggi pada anak.
Di sinilah diperlukan kerja sama antara Bunda dan si kecil tersayang agar proses mendidiknya berjalan dengan lancar. Kalau anak masih tantrum, berikan mainan kesukaannya terlebih dahulu untuk memicu suasana hatinya lebih baik. Setelah itu Bunda bisa kembali mengajaknya bermain sambil mengajarkan bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan. Jangan lupa untuk berikan beberapa pujian pada si kecil saat dia berhasil melakukan kegiatan yang positif dan baik bagi dirinya.

3. Pentingnya mengikuti pola berpikir anak


Memang sangat mudah untuk merasa kesal saat si kecil membuat seisi rumah berantakan. Hari ini si kecil menggambar seluruh dinding rumah dengan spidol atau krayon, lalu keesokannya menyebarkan semua mainan di tiap ruang tanpa pernah membereskannya lagi, Bunda tentu pusing dibuatnya.
Namun yang harus Bunda ingat, pola pikir Bunda tentu berbeda dengan pola pikir si kecil. Mungkin bagi Bunda membereskan mainan adalah hal yang mudah dan dapat cepat diselesaikan, tapi belum tentu itu berlaku sama untuk si kecil.
Jadi, cobalah untuk mengikuti pola pikir anak. Pada anak seusianya, hal-hal seperti itu memang menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ingat pula bahwa Bunda pun melakukan hal yang sama saat seusianya. Ini karena usia balita adalah masa ketika si kecil belajar dan mengenal apa saja yang ada di sekitarnya.

4. Pentingnya menghidupkan suasana di lingkungan yang sesuai


Untuk mengawali mendidik anak, hindari berbagai godaan yang dapat membuyarkan konsentrasi anak. Ya, menciptakan lingkungan yang kondusif dan sesuai dengan keadaan si kecil adalah cara mendidik anak yang tepat.
Misalnya, hindari akses TV, handphone, tablet, atau alat elektronik lainnya yang dapat mengganggu proses pembelajaran anak balita. Proses mendidik anak terkadang terganggu dengan tampilan video yang lebih menarik bagi si kecil daripada mainan yang ada di sekitarnya. Membaca buku atau mainan lainnya, justru lebih bisa merangsang kemampuan motorik dan sensorik si kecil. Jadi, sebelum terlambat, Bunda mesti menghindarkan anak pada pengaruh elektronik ya.

5. Perlunya memberi sedikit ‘sanksi’ pada anak


Banyak orangtua yang tak tega jika harus memberikan hukuman pada anaknya. Sebenarnya, ini juga diperlukan untuk menunjukkan sikap tegas dalam mendidik anak. Akan tetapi ingat, Bunda juga harus mengukur hukuman yang diberikan pada si kecil, jangan terlalu memberatkan. Hal ini hanya dilakukan untuk membuat si kecil belajar disiplin.
Misalnya saja, saat si kecil memukul, menggigit, atau melemparkan makanannya, bawa si kecil ke kamarnya atau ke ruangan yang lebih privat. Kemudian, minta ia untuk diam di ruangan tersebut dan memikirkan apa yang telah ia lakukan selama beberapa saat. Di sini ajaklah anak untuk bersikap lebih tenang dan berikan pemahaman bahwa sikap si kecil perlu diperbaiki beserta alasannya.

6. Bersikap tenang dan jangan pernah terpancing amarah


Hindari membentak atau memarahi si kecil secara berlebihan saat dia tidak mau disiplin. Pasalnya, hal ini hanya akan membuat pesan positif yang Bunda utarakan hilang begitu saja di benak si kecil. Ketika si kecil menangkap aura negatif dari amarah Bunda, dia hanya akan melihat bentuk emosinya dan tidak akan mendengar sama sekali apa yang Bunda katakan. Usahakan untuk tetap bersikap tenang di depan anak ya Bun. [SFJ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini