10 Tips Penting Menghadapi Anak yang Marah Hebat

0
82

Di rumah, Bunda sudah pasti harus berurusan dengan anak yang marah. Tidak ada yang mampu menyangkal hal itu. Dan tidak pula berguna jika memilih mengabaikan atau menghindarinya begitu saja.
Seringkali, mengatasi anak yang marah berakhir dengan meneriakkan kata-kata yang justru tak pantas didengar anakanak, atau bisa jadi Bunda malah mendiamkannya, tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika ledakan amarah si kecil sudah menjadi-jadi.
Kemarahan adalah emosi normal yang terjadi pada anakanak maupun orang dewasa. Tetapi bagaimana kita mengekspresikan dan menangani perasaan marah adalah perbedaan antara hidup dalam kedamaian yang relatif dan perasaan yang seperti sudah berada di ujung akal.


Belajar mengelola emosi pada anakanak dan remaja yang marah adalah proses yang berkelanjutan dan mengasa keterampilan penting untuk terus dipelajari. Lalu, bagaimana kita memulai untuk mengelolanya?
Nah, berikut adalah 10 tips dari Carol Banks (Master Pekerjaan Sosial Klinis, Universitas New England) pada laman Empowering Parents untuk menghadapi anak yang sedang marah hebat:

1. Jangan Meneriaki atau Menantang Balik Anak Saat Dia Sedang Marah Hebat

Sering kali orang tua menghadapi kemarahan yang meledak-ledak dengan menantang anak-anak mereka lalu berteriak lebih besar. Tapi ini hanya selalu berakhir dengan emosi Bunda menjadi di luar kendali. Hal terbaik yang dapat Bunda lakukan adalah tetap tenang dalam situasi krisis macam ini.
Coba Bunda pikirkan analogi seperti ini: bahkan jika Bunda mengalami kecelakaan mobil dan pengemudi lain melompat keluar dan sangat marah kepada Bunda, jika bisa tetap tenang dalam situasi itu, mereka mungkin akan mulai ikut rileks dan menempatkan interaksi pada kualitas akal. Tetapi jika Bunda berinteraksi kepada mereka dengan respons agresif, dan berkata, “Apa yang Anda bicarakan, itu salah Anda,” ketegangan tinggi itu hanya akan terus berada di tempat itu dan tidak menyelesaikan apa pun.
Jadi jangan tantang anak Bunda ketika dia marah. Itu hanya menambah bahan bakar ke dalam kobaran api. Tunggulah sampai dia tenang.

2. Jangan Mencoba Memaksa Bertukar Pikiran Ketika Anak Berada di Tengah Kemarahan

Bagaimanapun, sebagai orang dewasa, Bunda mencoba melalui berbagai hal untuk meredakan situasi tegang. Tetapi, bertukar pikiran dengan anak yang marah selalu merupakan tantangan karena mereka tidak memiliki kapasitas yang sama seperti Bunda.
Jadi ketika Bunda berurusan dengan anak yang sedang marah, Bunda harus meninggalkan cara dimana Bunda merasa mampu menguasai pikiran anak. Jika sudah merasa cukup nyaman, mulailah menggunakan teknik yang berbeda.
Jika memungkinkan, hindarilah upaya menyudutkan anak seperti mengajukan pertanyaan macam ini, “Mengapa kamu marah padaku? Kamu adalah orang yang melupakan pekerjaan rumah di sekolah.” Itu hanya akan membuat anak Bunda akan lebih marah. Sebagai gantinya, tunggu sampai dia tenang dan kemudian membicarakannya nanti.

3. Perhatikan Reaksi Sendiri

Sangat penting untuk memperhatikan reaksi Bunda sendiri, baik secara fisik maupun psikis. Indera Bunda akan mencoba memberi tahu bahwa,“Oh, astaga, saya di hadapan seseorang yang sangat marah.”
Bunda akan merasakan jantung mulai berdetak lebih cepat karena adrenalin yang akan terus meningkat. Meskipun sulit, triknya adalah melawannya dengan cara tertentu dan mencoba tetap tenang.
Ingat, Bunda semestinya memberikan kekuatan kepada anak-anak pada saat-saat seperti ini. Dengan tetap tenang, Bunda menunjukkan kepada anak secara langsung cara menangani kemarahan. Dengan tetap tenang, Bunda tidak menantang anak untuk terlibat dalam perebutan kuasa dalam situasi rumit itu.
Juga, memperhatikan reaksi Bunda sendiri akan membantu anak mulai memperhatikan dirinya sendiri karena dia tidak perlu khawatir emosi Bunda. Jadi, Bunda benar-benar harus memanfaatkan beberapa keterampilan pengasuhan yang solid untuk menangani ledakan amarah dengan cepat dan efektif.

4. Jangan Merespon Secara Fisik Amarah Anak

Dalam sebuah sesi pelatihan orang tua oleh Carol Banks di lembaganya, ia terkadang mendengar dari orang tua yang kehilangan kendali dan merespon amarah anak secara fisik . Ia pernah menerima telepon dari seorang ayah yang putranya yang masih remaja berbicara keras kepada ibunya, dan sang ayah mendorongnya. Perkelahian kemudian terjadi.
Setelah itu, putranya tidak mau berbicara dengan ayahnya karena dia merasa ayahnya harus meminta maaf kepadanya. Sang ayah, di sisi lain, merasa bahwa putranya yang menyebabkan masalah dan khawatir bahwa wibawa dan wewenangnya akan berkurang jika dia yang meminta maaf. Inilah yang Carol sarankan padanya untuk segera diucapkan ke anak:
“Aku kehilangan kendali dan salah bagiku untuk mendorongmu. Saya minta maaf.”
Itu dia. Tidak ada lagi. Akhir dari cerita. Kita semua melakukan kesalahan dari waktu ke waktu dan kami meminta maaf, memperbaiki jika perlu, dan terus maju.
Penting untuk menjadi panutan yang baik dan mengatasi ego sebagai orang dewasa dalam pertarungan kuasa dan wibawa di dalam rumah. Ingat, jika Bunda maupun pasangan Bunda melakukan kekerasan fisik kepada anak, itu hanya mengajarinya untuk menyelesaikan semua masalahnya dengan agresi.

5. Ambil Pendekatan Berbeda pada Anak

Jika anak kecil Anda (delapan belas bulan hingga empat tahun) berada di tengah-tengah kemarahan, Anda ingin sedikit menjauh darinya, tetapi jangan mengisolasinya sepenuhnya. Ketika anak-anak kecil kesal, Anda ingin membantu mereka mulai belajar bahwa mereka dapat berperan dalam menenangkan diri. Anda bisa mengatakan:
“Kuharap aku bisa membantumu menenangkan diri. Mungkin Anda bisa berbaring sebentar di sofa. ”
Jadi minta mereka tenang sampai mereka merasa memegang kendali. Dengan melakukan itu Anda meminta mereka untuk memperhatikan diri mereka sendiri. Jadi, alih-alih, “Anda harus duduk di sana selama sepuluh menit sendirian,” lebih baik untuk mengatakan:
“Ketika kamu merasa lebih baik dan kamu tidak marah lagi, kamu bisa keluar dan bergabung dengan kami.”

6. Jangan Mendiamkan dan Menghindari Anak

Beberapa orangtua memilih membeku, membisu ketika anak-anak mereka mengamuk atau pada puncaknya mulai berteriak kepada mereka. Dua opsi ini sering diterapkan hampir bersamaan dalam satu masalah. Membentak lalu mendiamkan. Orang tua secara emosional kewalahan dan menjadi lumpuh karena keragu-raguan atau telah menyerah pada anak.
Ingat ya Bun, kadang-kadang anak akan marah dengan sengaja untuk melibatkan Bunda. Mereka akan memberi umpan dengan melempar korek api atau mengatakan sesuatu yang kasar karena mereka tahu ini akan membuat Bunda menyerah. Jangan menerima umpan itu. Tetapi ingat, ya Bun, jangan sampai marah dan jangan menyerah.
Kadang-kadang orangtua memang memiliki kecenderungan untuk bernegosiasi dengan anak dalam situasi ini. Seringkali, orang tua mengalami kesulitan mengelola emosi mereka sendiri sehingga mereka tidak tahu bagaimana melatih anak mereka dengan baik pada saat itu.
Menurut pendapat Carol, ketika orangtua menolak untuk bernegosiasi, sebenarnya itu tidak bersikap pasif. Itu adalah pilihan sadar untuk tidak berdebat. Bunda misalnya berkata, “Saya tidak akan bernegosiasi. Saya akan tenang.”Meskipun mungkin tidak terlihat seperti itu di permukaan, semua pilihan itu adalah tindakan. Bunda harus membuat keputusan untuk bertindak dengan tidak menyerah, bukan sekedar tenang.

7. Berikan Konsekuensi untuk Perilaku Buruk, Tapi Bukan untuk Kemarahan

Ketika anak Bunda membuat ulah, mulai berteriak keras, dan benar-benar kehilangan kendali atas amarahnya, pastikan Bunda memberinya konsekuensi berdasarkan perilakunya, atau apa yang dilakukannya, bukan pada emosinya.
Misalnya, jika anak Bunda merusak segala hal di sepanjang ia marah, beri dia konsekuensi nanti untuk tindakannya. Tetapi jika semua yang dia lakukan adalah berteriak di kamarnya dan berceloteh panjang lebar tentang bagaimana hidup ini tidak begitu adil padanya, biarkan itu terjadi . Kemarahan adalah emosi normal dan anak-anak menjadi marah seperti juga kebanyakan orang dewasa. Dan,anak perlu merasa bahwa mereka memiliki tempat yang aman untuk mengeluarkan kegelisahan dan amarah.
Selama anak tidak melanggar aturan apa pun dan tidak bersikap tidak sopan, Bunda mungkin harus membiarkan si kesayangan marah.

8. Jangan Memberikan Hukuman yang Terlalu Keras

Memberi hukuman keras di situasi yang panas adalah kekalahan. Inilah sebabnya anak Bunda makin marah. Dia mengamuk dan terus berteriak. Ia telah menemukan alasan baru untuk terus terbakar amarah.
Apa yang sebenarnya terjadi di sini adalah orang tua kehilangan kendali emosional. Hal terburuk yang dapat Bunda lakukan adalah bergabung dengannya dan menjadi marah pada diri sendiri. Hukuman keras yang tampaknya tidak pernah berakhir pada anak justru tidak efektif dan hanya akan membuatnya semakin marah pada saat itu.
Ingat, tujuannya adalah untuk mengajarkan anak Bunda untuk mengendalikan dirinya sendiri. Konsekuensi yang efektif dan dipikirkan dengan baik memainkan peran, tetapi konsekuensi hukuman keras yang menumpuk bukanlah jawabannya.

9. Beristirahat

Dalam suatu sesi pelatihan oleh Carol, ia akan sering bertanya kepada beberapa orang tua tentang ledakan amarah anak mereka dengan pertanyaan seperti ini: “Ketika Anda dan pasangan marah satu sama lain, apa yang Anda lakukan untuk menenangkan diri?” Sering kali, orang akan mengatakan bahwa mereka beristirahat dan lakukan sesuatu sendiri untuk sementara waktu sampai mereka bisa tenang dan membicarakannya.
Nah, Bunda, teknik ini juga berlaku untuk anak Bunda. Tetapi orang tua sering tidak memikirkannya karena mereka merasa mereka harus mengendalikan anak-anak mereka. Tapi ingat, ketika seseorang marah, Bunda tidak bisa berdebat dengan mereka dan tidak bisa juga terburu-buru menyelesaikannya. Intinya adalah bahwa jika Bunda tetap di sana dalam kemarahan itu dan terus saling terlibat, itu tidak akan pernah hilang. Sebaliknya, masalah hanya bertambah besar.
Jadi istirahat dan kembali berinteraksi satu sama lain nanti ketika semuanya sudah tenang.

10. Model Respon yang Tepat Saat Bunda Marah

Carol pada suatu kesempatan juga memberi tahu beberapa orang tua bahwa mereka harus mencoba menjadi teladan dalam menghadapi kemarahan mereka sendiri dengan tepat. Dengan kata lain coba kelola kemarahan Bunda sendiri sebagai pelajaran untuk anak kelak. Apa beberapa cara yang baik untuk melakukan itu? Coba ucapkan ini kepada anak Bunda:
“Aku mulai frustrasi — aku akan istirahat.” Atau, “Aku tidak bisa bicara denganmu sekarang. Aku benar-benar kesal jadi aku akan menunggu sampai aku tenang. Mari kita bicara nanti.”
Mengakui bahwa Bunda marah dan perlu waktu untuk menenangkan diri bukanlah kelemahan. Dibutuhkan banyak kekuatan untuk mengucapkan kata-kata ini. Ingat, Bunda sedang mengajarkan pelajaran tentang cara mengelola kemarahan, dan itulah yang Bunda inginkan dipelajari anak.[SFJ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini