Anak Bunda Bertindak Tak Hormat? Ini Hal yang Perlu Dilakukan Sebagai Orang Tua

0
52

Tatapan sinis, kutukan, penghinaan, backtalk, panggilan nama, pengabaian, komentar sinis adalah jenis perilaku dari anak atau remaja yang datang dalam berbagai bentuk ekspresi di beberapa situasi. Jika Bunda berjuang menghadapi perilaku tidak sopan dari anakanak, Bunda tidak sendirian: ini adalah salah satu topik percakapan terbesar antara orang tua dan pelatih/konsultan orang tua online di situs Empowering Parents.
Faktanya adalah, perilaku tidak sopan merupakan salah satu cara yang kurang pantas dilakukan anakanak, terutama remaja, dalam upaya mereka memecahkan sebuah masalah. Anak-anak dapat merasa tidak berdaya dalam menghadapi aturan dan harapan. Mereka lalu melakukan talkback dan menunjukkan rasa tidak hormat dimana itu salah satu cara mereka mencoba mengambil kembali kekuasaan.
Jika mereka bisa menyeret Bunda ke dalam perdebatan dan adu argumen, itu lebih baik. Tapi tetap harus berhati-hati, jika salah menyikapi, bisa saja sekarang Bunda malah berdebat tentang rasa hormat itu sendiri alih-alih berfokus pada aturan jam malam atau pekerjaan rumah mereka yang bermasalah.
“Anda tidak bisa menuntut rasa hormat, tetapi Anda bisa meminta agar anak Anda bertindak dengan hormat, tidak peduli bagaimana perasaan mereka tentang situasi itu,” tulis Megan Devine di laman Empowering Parents.
Fakta yang lain berbicara bahwa remaja secara alamiah mencari lebih banyak kemandirian seiring bertambahnya usia, dan rasa tidak hormat yang ringan adalah salah satu cara kebebasan diekspresikan.
Tetapi seperti yang ditulis oleh James Lehman, pencipta program The Total Transformation, “Meskipun penting untuk memungkinkan melepas proses ‘alami’ yang terjadi selama masa remaja anak, orang tua juga harus memastikan untuk mengidentifikasi dan menentang perilaku anak yang benar-benar tidak sopan. Seperti yang terlampau menyakitkan, kasar, atau merendahkan orang lain.”
Jadi, meskipun mungkin itu sehat dan normal dalam beberapa kasus, perilaku tidak sopan bukanlah sesuatu yang bisa Bunda lepaskan sepenuhnya. Bahkan, mengabaikannya benar-benar dapat menyebabkan perilaku tidak sopan meningkat.
Apa yang meningkatkan perilaku tidak sopan pada anak/remaja?
Berikut adalah lima cara yang hampir dijamin bahwa Bunda dapat secara tidak sadar mendorong perilaku tidak sopan pada anak – dan apa yang dapat Bunda lakukan sebagai gantinya:

1. Melihat Segalanya Sebagai Sentimen Pribadi

Cukup banyak anak atau remaja menusuk tanpa henti pada orang tua mereka, mengekspresikan rasa frustrasi mereka dengan berbagai cara. Mata bergulir sinis, mencemooh, menyeringai – itu semua adalah perkakas remaja dalam menyampaikan pengabaian mereka. Dan seperti yang kita semua tahu, perilaku ringan dan menjengkelkan itu bisa benar-benar terjadi pada semua orang tua, jadi menghindarinya bukan sebuah jalan keluar.
Anak-anak mencari titik-titik lemah pada pribadi Bunda, tempat-tempat di mana mereka dapat menyeret Bunda untuk membela diri atas aturan yang Bunda buat sendiri.
Jika menganggap dan menerimanya sebagai sentimen pribadi pada Bunda, maka akan sangat sulit untuk merespons secara efektif. Jika bereaksi terhadap setiap perilaku itu, Bunda tidak akan melihat adanya perubahan pada anak. Meskipun hal-hal ini menjengkelkan, anak bakal merasa tidak perlu sesuatu untuk diperbaiki.
James Lehman berbicara tentang perlunya mengabaikan hal-hal kecil yang tidak sopan yang dilakukan anak – terutama jika dia menuruti aturan Bunda. Bocah yang bergumam pelan ketika ia melangkah untuk melakukan apa yang diperintahkan kepadanya meski tak ikhlas itu bersikap seperti anak biasa yang normal. Ini terjadi ketika anak memperlakukan orang dengan buruk sambil menolak untuk memenuhi harapan di sisi lain bahwa Bunda harus masuk terlibat dan memperbaiki perilakunya.

Yang Bunda Harus Lakukan:
Putuskan perilaku mana yang akan Bunda fokuskan, dan yang dapat abaikan. Ingatlah bahwa perilaku yang agak menjengkelkan itu bukan tentang Bunda, itu hanya ekspresi frustrasi. Peran Bunda adalah menangani perilaku anak atau remaja seobjektif mungkin.
Tapi, itu tidak berarti Bunda tidak akan kesal! Temukan saja cara untuk mengatasi emosi itu dalam berinteraksi dengan anak, jika memungkinkan. Biarkan saja, dan tetap fokus pada yang Bunda fokuskan.

2. Jangan Menjelek-jelekkan Orang Lain

Hidup kadang-kadang membuat stres: tugas dari bos di kantor yang sulit, tetangga yang terlalu keras, atau anggota keluarga yang bisa saja terus menjengkelkan. Menyikapi itu semua, Bunda di suatu kondisi tertentu bisa saja menggerutu tentang banyak hal, dan menyelipkan banyak nama orang lain dalam kekesalan itu.
Sebagai orang tua, Bunda akan memiliki banyak kesempatan untuk menunjukkan kepada anakanak bagaimana Bunda mengelola perilaku ketika kesal atau marah. Jika Bunda berbicara buruk tentang orang lain atau memperlakukan orang lain dengan tidak hormat, jangan heran jika anak Bunda kelak akan mengikutinya.
Yang Bunda Harus Lakukan:
Orang tua harus menjadi panutan perilaku yang lebih baik untuk anakanak mereka. Ingat, mereka mengawasi Bunda, meskipun mereka tidak benar-benar peduli apa yang Bunda lakukan. Jika Bunda ingin anak menghargai dengan rasa hormat, contohkan perilaku yang sopan. Lakukan yang terbaik untuk menunjukkan kepada mereka cara itulah yang pantas dilakukan.

3. Jangan Selalu Mengambil Posisi Memihak Pada Anak yang Tidak Sopan

Apa hubungannya memihak anak dengan perilaku tidak sopan? Katakanlah anak Bunda mengeluh tentang berapa banyak pekerjaan rumahnya, menyebut nama-nama guru dengan embel-embel yang umumnya tidak sopan terhadapnya.
Bunda mungkin setuju bahwa guru ini memberi terlalu banyak pekerjaan rumah pada anak. Anda mulai merasa bahwa si guru memakai pendekatan yang buruk pada anak. Jika dalam kasus ini Bunda memihak anak, Bunda mungkin akan mengatakan secara langsung ataupun tidak jika Bunda setuju menganggap guru itu bodoh, dan bahwa guru itu telah melakukan pekerjaan yang mengerikan.
Ketika Bunda berpihak pada anak dalam situasi itu, akibatnya adalah Bunda terseret dan bergabung dengan anak dalam perilakunya yang tidak sopan, Bunda menunjukkan kepada mereka bahwa Bunda tidak harus menghormati orang yang tidak Bunda setujui. Pesan yang mungkin ditangkap anak Bunda adalah: jika kita berpikir seseorang telah melakukan kesalahan, maka kita memiliki hak untuk bersikap kasar padanya.
Yang Bunda Harus Lakukan:
Yang benar adalah, baik Bunda maupun anak Bunda, tidak harus setuju dengan seseorang untuk memperlakukan mereka dengan tidak hormat. Bahkan jika Bunda berpikir guru (atau pelatih, atau bos, dll) salah, beri tahu anak Bunda bahwa terlepas dari apa yang mereka rasakan, mereka masih perlu menemukan cara untuk bertindak dengan tepat.
Satu bonus tambahan dari pendekatan ini adalah bahwa anak Bunda berkemungkinan besar akan menghadapi dengan baik masalah ini jika bertemu dengan banyak orang dalam kehidupan dewasanya yang tidak ia setujui dan tidak pernah ia inginkan. Bantu dia mempelajari keterampilan yang dia butuhkan untuk menangani perselisihan itu dengan cara yang tenang dan tepat.
Nah, Jika Bunda melihat diri Bunda ada dalam salah satu contoh kasus di atas, jangan khawatir. Mengenali cara yang tidak efektif dalam menghadapi rasa tidak hormat sebenarnya adalah langkah yang bagus. Ketika Bunda menjadi lebih sadar akan hal-hal yang tidak berhasil, Bunda akan lebih mampu untuk mengambil tindakan yang konsisten dan efektif untuk membalikkan keadaan. Ini akan membutuhkan waktu dan latihan, tetapi di sisi lain Bunda juga dapat membantu anak belajar berperilaku dengan cara yang lebih terhormat.
Sebagai catatan, kiat-kiat ini berlaku untuk rasa tidak hormat yang ringan sampai yang kategorinya sedang dari anak Bunda. Jika perilaku yang Bunda lihat sudah lebih ekstrem dari itu, pastikan untuk menjangkau lebih banyak dukungan. Tapi ingat ya Bun, “Tidak ada alasan untuk pelecehan dan kekerasan.” [SFJ]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini