Ternyata Ini Penyebab Wanita Lebih Rentan Migrain Daripada Pria

0
36
WANITA LEBIH RENTAN MIGRAIN
Sumber Gambar:grid.id

Kerap kali sakit kepala merupakan gejala PMS, namun demikian tidak semuanya tergolong migrain. Dikutip dari laman tanya.asmaraku.com,migrain ketika haid umumnya tidak disertai aura, dan munculnya pun saat PMS, yaitu H-2 sebelum hari pertama hingga hari ke-3 datang bulan. Hal ini tak mengherankan karena kadar estrogen biasanya menurun menjelang haid. Memang sih hormon bukanlah satu-satunya penyebab migrain ketika haid, perubahan sekitar seperti suara, cahaya terang, aroma, dan pergerakan tertentu juga mampu memicu sakit kepala sebelah.

WANITA LEBIH RENTAN MIGRAIN
Sumber Gambar:grid.id

Namun bukan waktu haid saja, kadar estrogen juga cenderung merosot pasca persalinan (terutama jika tidak menyusui), dan selama menopause.Dibanding menopause, migrain mungkin lebih parah sewaktu perimenopause karena pada masa ini, fluktuasi hormon sangat tak menentu. Di samping itu, penderita migrain umumnya juga lebih sering menderita sakit kepala selama periode pramenopause. Kemungkinannya mencapai 60% dibanding perempuan yang tidak menderita migrain.

Hal lainnya adalah berbagai hasil studi masih pro-kontra terkait soal apakah migrain akan membaik atau justru memburuk sewaktu menopause. Ini membuktikan bahwa penyebab migrain perimenopause tak hanya estrogen saja, tapi mungkin juga karena stres, gangguan tidur, perubahan mood, efek samping obat yang diminum, dan lain sebagainya.

Mengatasi migrain waktu menstruasi

Permasalahannya sekarang adalah, migrain saat haid umumnya lebih parah dan lama jika dibanding migrain yang muncul di waktu selain masa PMS. Ini membuat penanganannya lebih sulit dan lama.Karenanya, begitu serangan migrain muncul, segeralah beristirahat dalam ruang gelap atau mengaplikasikan kompres dingin. Bila cara alami tadi tidak berhasil, tak ada salahnya menggunakan triptan, obat yang biasanya dipakai untuk mengobati migrain sedang hingga parah. Tapi sebelumnya konsultasikan dulu penggunaannya dengan dokter.

Triptan juga dapat dikombinasikan dengan obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) seperti ibuprofein, atau naproxen (Aleve). Selain itu, dokter bahkan mungkin akan meresepkan kombinasi obat seperti Treximet (sumatriptan/ naproxen sodium).

Mencegah migrain:

Untuk siklus haid teratur

Konsumsi obat AINS, atau Frova (frovatriptan) 5-6 hari sebelum hari pertama haid. Pilihan lain adalah dengan mengonsumsi makanan tinggi (atau suplemen) magnesium, 2 minggu sebelum hari pertama datang bulan.Alternatif selanjutnya adalah terapi hormon misalnya melalui pil atau koyo estrogen seminggu sebelum menstruasi.

Bagi siklus haid tak teratur

Sayangnya upaya pencegahan tadi agak sulit dilakukan bila siklus haid tidak teratur. Untuk ini, alat kontrol kehamilan yang mengandung estrogen dapat jadi solusinya (meski mungkin butuh waktu hingga 12 tahun untuk merasakan khasiatnya). Sebelum menggunakannya, Anda tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter.

Soal pil KB misalnya, memang benar bahwa risiko terkena stroke penggunanya lebih besar ketimbang yang tidak. Walau terdengar menakutkan, tapi risiko ini tergolong jarang. Wanita sering migrain yang berisiko tinggi biasanya yang merokok, penderita hipertensi, atau mengalami migrain dengan aura. Karenanya penderita migrain dengan aura tidak disarankan menggunakan kontrasepsi, khususnya yang kadar estrogennya tinggi. Dalam hal ini, ginekolog atau neurolog mungkin akan meresepkan pil KB estrogen dosis rendah, ketimbang progestin.

Buat ibu menyusui

Ibu hamil jangan takut menyusui, karena ada dampak positif terkait migrain yang akan ia peroleh. Ya, selain menyehatkan dan mempererat kedekatan dengan buah hati, menyusui ternyata juga mampu menjauhkan migrain, terutama selama trimester ke-2 dan trimester 3 kehamilan.Hasil survei menunjukkan lebih dari 70% ibu menyusui tidak terserang migrain selama hamil, utamanya mereka yang biasa mengalami migrain sewaktu haid dan migrain tanpa aura. Hanya 5% saja yang mengaku migrainnya semakin buruk, sementara 25% sisanya tidak mengalami perubahan apapun.

Sisi negatifnya adalah, setelah lama tidak migrain selama hamil, serangannya mungkin terasa lebih kuat pasca melahirkan nanti. Memang menyusui mampu mencegahnya karena aktivitas ini menstabilkan estrogen dalam tubuh, namun bisa juga tidak.

 

Oleh: Amha Eri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini