Perbedaan Influenza dan Selesma Secara Mendasar

0
31
Sumber Gambar: fk.ui.ac.id

Makkunrai.id – Kondisi ketika Flu menyerang paru-paru, hidung, dan tenggorokan. Anak-anak, orang dewasa yang lebih tua, wanita hamil, dan orang dengan penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh lemah berisiko tinggi. Demikian gejalanya meliputi demam, menggigil, nyeri otot, batuk, pilek, sakit kepala, juga kelelahan.

“Selesma dan influenza disebabkan virus yang berbeda,” kata Ketua Perhimpunan Alergi-Imunologi Indonesia Prof Dr dr Iris Rengganis SpPD K-AI FINASIM dalam peringatan Hari Flu Sedunia bersama Sanofi Pasteur di Jakarta, Seperti di kutip Republika.co.id, Jumat (29/11/2019).

Influenza, jelas Iris merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus influenza. Pada umumnya, virus influenza yang menginfeksi manusia dapat terbagi ke dalam dua tipe yaitu virus influenza tipe A dan tipe B.

“Dua-duanya cukup ganas sehingga bisa menyebabkan kematian dan wabah,” kata Iris.

Salah satu contoh dari penyakit influenza adalah flu burung. Flu burung merupakan penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza tipe A.

Selesma, lanjut Iris, merupakan keluhan pilek biasa yang dapat disebabkan oleh beraneka macam virus. Akan tetapi virus yang menyebabkan selesma bukanlah virus-virus yang ganas.

Iris juga menambahkan selesma bisa sembuh dengan sendirinya. Yang terpenting adalah selama masa pemulihan pasien mendapatkan minum, istirahat dan tidur yang cukup. Obat-obatan bisa diberikan untuk mengatasi keluhan yang muncul saat selesma.

“Obat diberikan untuk meringankan gejala,” jelas Iris.

Influenza dan selesma seringkali sulit dibedakan oleh masyarakat awam karena memiliki gejala yang mirip. Namun, gejala-gejala pada influenza dan selesma sebenarnya cukup berbeda.

Untuk selesma, tutur Iris, gejala seperti demam, sakit kepala serta nyeri dan pegal jarang ditemukan. Sebaliknya, pasien influenza dapat mengalami demam tiba-tiba dan tinggi selama 3-4 hari, sering mengeluhkan sakit kepala, serta cukup sering mengeluhkan nyeri atau pegal yang cukup berat.

Pasien selesma juga jarang merasakan keluhan lemah. Sebaliknya, pasien infuenza cenderung merasa lemah yang cukup berat dan dapat berlangsung hingga satu bulan. Oleh karena itu, pasien selesma jarang membutuhkan istirahat total di tempat tidur sedangkan pasien infuenza kerap membutuhkan istirahat di tempat tidur hingga 5-10 hari.

Iris menambahkan, keluhan pilek, bersin-bersin dan tenggorokan sakit biasa ditemukan pada pasien selesma. Akan tetapi, keluhan-keluhan tersebut jarang ditemukan pada pasien influenza. Di sisi lain, pasien selesma jarang mengalami keluhan batuk sedangkan pasien influenza cukup sering mengeluhkan batuk.

“Batuknya (untuk pasien influenza) bisa menjadi parah,” ujar Iris.

Seperti di lansir Republika.co.id, jumat (20/11/19), Risiko komplikasi dari selesma dan influenza juga cukup berbeda. Risiko komplikasi pada selesma adalah sinus atau infeksi telinga. Pada influenza, risiko komplikasi yang dapat terjadi adalah pneumonia, gagal ginjal hingga mengancam jiwa.

Ketua Indonesia Influenza Foundation (IIF) Prof dr Cissy B Kartasasmita SpA(K) PhD mengatakan keluhan-keluhan selesma biasanya mulai berkurang setelah tiga hari dan membaik setelah lima hari. Akan tetapi pada influenza, keluhan-keluhan tetap dirasakan meski 3-5 hari telah berlalu.

“Kalau tiga hari tidak sembuh sendiri, apalagi makin parah, harus berobat,” terang Cissy.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini