Mengapa Wanita Lebih Berisiko Depresi Daripada Pria

0
52

Tahukah Anda, kalau data WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa depresi akan menjadi beban penyakit tertinggi kedua di dunia pada 2020 mendatang. Depresi merupakan kondisi yang sangat serius dan tak boleh diremehkan. Bahkan baru-baru ini desainer Kate Spade dikabarkan meninggal dunia bunuh diri akibat depresi. Dalam banyak kasus memang seseorang yang mengalami depresi cenderung nekat, demikian bunuh diri.


Dilansir dari lamanpsycholpgytoday.com, depresi dua kali lipat lebih banyak dialami wanita daripada pria. Alasannya sebenarnya bisa sangat bermacam-macam. Namun, dari sisi biologis hingga sosiobudaya ada penjelasannya sendiri.

Sisi Biologis

• Dibandingkan pria, wanita memiliki pradisposisi genetik (kerentanan genetik) yang lebih kuat mengalami depresi.

• Dibandingkan pria, wanita lebih rentan mengalami perubahan kadar hormon. Khususnya ketika akan melahirkan atau mendekati menopause, keduanya sangat berkaitan dengan tingginya risiko mengalami depresi.

Sisi Sosiobudaya

• Wanita sering menghadapi berbagai kondisi yang membuatnya gampang stres dibandingkan pria. Misalnya saja soal menjalankan berbagai peran dalam hidup seperti menjadi wanita karier, menjaga rumah tangga, membesarkan anak, merawat orangtua, hingga harus menghadapi masalah seksisme di masyarakat.

• Wanita berumur lebih panjang daripada pria. Umur yang “terlalu panjang” bisa memicu kondisi seperti kesepian dan menurunnya kondisi kesehatan yang kemudian bisa memicu depresi.
Pada umumnya, depresi ditandai dengan memburuknya suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi penderitanya yang setidaknya berlangsung berkelanjutan selama lebih dari enam bulan.Depresi dapat sangat membatasi fungsi Anda sebagai manusia. Demikian dapat menimbulkan rasa keputusasaan, nelangsa, dan ketidakberdayaan. Bahkan, depresi dapat memicu ketidakinginan untuk terus hidup.

Dilansir dari hellosehat.com,berikut beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih rentan mengalami depresi dibandingkan pria:

1. Faktor genetik

Riwayat depresi keluarga meningkatkan peluang terjadinya depresi, baik pada pria dan wanita. Namun, studi menunjukkan bahwa tekanan hidup yang dialami cenderung membuat wanita lebih rentan untuk mengalami stres yang berujung depresi dibandingkan pria. Mutasi genetik tertentu yang terkait dengan perkembangan depresi berat juga hanya terjadi pada wanita.

2. Masa puber

Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan, baik secara fisik dan psikis. Berkaitan dengan depresi, studi menemukan bahwa sebelum masa puber, anak laki-laki dan perempuan sama-sama cenderung mengalami depresi. Namun, setelah usia 14 tahun, wanita cenderung dua kali lebih rentan mengalami depresi.

3. Menstruasi

Perubahan hormon menjelang menstruasi dapat menyebabkan perubahan mood drastis (mood swing) yang seringkali menyertai nyeri PMS. Hal ini terhitung wajar. Namun ada bentuk mood swing PMS yang lebih parah, disebut dengan Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Wanita yang dilanda PMDD bahkan punya kecenderungan lebih besar untuk mengalami depresi hingga mencoba bunuh diri, meski menstruasinya sudah tuntas. Dilansir dari WebMD, wanita yang punya gangguan ini umumnya memiliki kadar hormon serotonin sangat rendah. Dalam tubuh, hormon serotonin mengendalikan mood, emosi, pola tidur, dan rasa sakit. Kadar hormon memang bisa menjadi tidak seimbang menjelang atau selama menstruasi. Akan tetapi, belum jelas penyebabnya kenapa hormon serotonin pada wanita tertentu bisa menurun drastis saat menstruasi.

4. Masa kehamilan

Masa kehamilan tidaklah mudah, karena selama proses tersebut akan terjadi perubahan hormon yang dapat memicu terjadinya perubahan mood atau depresi pada wanita. Perubahan hormon dan genetik semasa ini juga membuat wanita lebih rentan mengalami gangguan mood, seperti depresi. Bahkan setelah melahirkan, wanita juga rentan mengalami baby blues dan depresi postpartum yang dapat menyulitkan wanita untuk menjalani peran barunya sebagai ibu, termasuk dalam merawat bayinya.

5. Masa perimenopause (menjelang menopause)

Beberapa wanita rentan mengalami depresi setelah proses melahirkan atau selama masa transisi menuju masa menopause. Naik-turunnya kadar hormon reproduksi pada tahun-tahun menjelang atau selama menopause dapat memicu gejala depresi pada wanita usia lanjut.

6. Pengaruh lingkungan

Faktor lain yang juga dapat membuat wanita rentan depresi adalah faktor lingkungan, terutama terkait peran wanita sebagai ibu, istri, dan anak bagi orangtuanya. Upaya tidak main-main untuk menyeimbangkan ketiga peran tersebut tidak jarang membuat wanita rentan mengalami stres kronis yang dapat memicu terjadinya depresi. Beberapa studi menunjukkan bahwa wanita mungkin lebih cenderung merenungkan masa lalu, yang baik maupun yang buruk, dibandingkan pria. Ini membuat wanita rentan mengalami gangguan kecemasan.

Cara mencegah depresi pada wanita cukup mudah, dan Anda perlu melakukan ini agar tidak mengalami masalah depresi bahkan pada kondisi yang lebih serius nantinya:

Tidak usah malu untuk meminta pertolongan demi menangani depresi Anda. Depresi bukan tanda ketidakbahagiaan atau cacat karakter. Seperti dikutip dari laman hellosehat.com, depresi bukanlah keadaan yang wajar ditemui seperti stres atau panik. Seperti halnya penyakit fisik, penyakit mental pun memerlukan penanganan yang tepat.Untuk mengobati depresi, Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengobati depresi di antaranya adalah dengan menggunakan obat-obatan antidepresan, atau melalui konseling psikoterapi seperti CBT.Perubahan gaya hidup sehat, salah satunya dengan olahraga rutin, juga dapat membantu meringankan gejala depresi. Anda berhak untuk hidup sehat dan bahagia.

Oleh: Amha Eri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini