Bumi Manusia, Relevansi antara Status Sosial dan Romantika Revolusi.

0
109
Liputan6.com

Buku yang telah dilarang beredar dan dibumi hanguskan oleh sebuah rezim, penulisnya diteror dan di jadikan tapol. Setelahnya, dibebaskan tanpa permintaan maaf jika sebenarnya ia tak bersalah. Namun, ketika dikenalkan pertama kali tak ada yang bakal menyangka, jika salah satu buku terbaik karya Pramoedya Ananta Tour yang berjudul Bumi Manusia akan diangkat menjadi sebuah film.

Film adaptasi novel terbaik yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo kemudian menempatkan Iqbal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, Donny Damara sebagai deretan orang yang akan mengambil peran di film tersebut.

Film yang sebelumnya mendapat komentar pedas tentang kisah, pemeran dan sutradara yg sebenarnya tidak pantas dari beberapa pembaca Buku Pram. Namun, kalau saja melalui buku Pram mampu menciptakan narasi yang luar biasa indah, lalu bagaimana dengan film Bumi Manusia ini? Berikut beberapa ulasannya.

https://assets-a2.kompasiana.com

Perjuangan Kelas dan Logika Cinta Tak Semudah Puisi Dilan
Era kolonial belanda merupakan masa-masa dimana semuanya memang serba sulit. Kerangka berpikir diciptakan melalui framing-framing yang subjektif. Pribumi, Belanda dan Nyai merupakan bagian tak mampu terpisahkan dari semua ini. Pertemuan antara Minke atau Iqbaal Ramadhan dan Annelies atau Mawar De Jongh itu hanyalah menjadi bagian awalnya saja.

Namun, memang logika cinta tak semudah puisi-puisi Dilan. Pada masa itu, Minke dan Annelies harus berhadapan dengan karakter-karakter yang terkurung dalam sudut pandangnya sendiri. Bagi keluarganya Minke, tinggal di tempat seorang Nyai itu merupakan hal yang tidak berbeda jauh dengan hal yang kotor dan sangat menjijikkan.

Pasalnya, di masa itu Nyai dianggap memiliki status sosial yang tak jauh berbeda dengan binatang. Namun, disisi lain Minke justru mengagumi apa yang dilakukan Nyai Ontosoroh itu, Ibu dari Annelies. Meskipun ditentang keluarganya, Minke percaya masih ada hal-hal baik yang bisa mengubah cara seseorang melihat dan memperlakukan sosok Nyai.

Konflik makin rumit ketika Nyai harus memperjuangkan hak-haknya di ranah kehidupan Feodal. Tak diakui oleh pengadilan sah tentang kepemilikan Annelies, dihujat dan digunjingkan di tanah sendiri oleh kaumnya. Hal ini pun merembet kepada kisah cinta Minke dan Annelies, film yang mengisahkan perjuangan dengan gaya drama kolosal yang begitu kompleks.

Novel Bumi Manusia merupakan kisah perjuangan kelas, perjuangan seorang Pribumi yang menuntut keadilan baginya, bagi mertuanya dan bagi bangsanya. Perjuangan yang akhirnya meruncing menjadi pertentangan antara Hukum Eropa dan Hukum Islam. Hukum Eropa, sebagai sebuah tatanan aturan yang dianggap ‘beradab’ dan ‘modern’ ternyata tidak lebih dari sekedar hukum yang menjerat dan menyengsarakan itu.

Komposisi Sampai Desain Sangat Baik

Hanung Bramantyo sebagai sutradara patut diacungi jempol jika mengerahkan energinya untuk membuat film dengan latar belakang sejarah. Salah satunya adalah bagaimana ia membuat visualisasi pikirannya pada tim produksi untuk menghasilkan set desain yang begitu baik.

Budaya, tempat, alat transportasi hingga hal detail lainnya seperti gestur tubuh menjadi pelengkap set desain yang sudah disiapkan untuk filmnya. Suasana kolonial begitu sangat kuat di dalam film in. Penggunaan warna yang terkesan vintage juga menjadikan film ini menggambarkan bagaimana kehidupan di masa lalu.

Kesemuanya dikombinasikan dengan gaya sinematografi yang baik pula. Komposisi demi komposisi hingga angle gambar yang ditampilkan membantu film ini tampil lebih baik. Tambahan, scoring musik yang memang membuat penonton berada dalam suasana masa lalu. Berdiri di tengah hiruk-pikuk kekalutan tatanan sosial masyarakat yang kasar dan perihnya mempertahankan sesuatu yang dicintai.

Bumi Manusia memang bukan film terbaik Hanung Bramantyo. Namun, dari Bumi Manusia kamu bisa melihat banyak sudut pandang yang baru dalam dunia di sebuah film. Iqbaal yang tak lagi bermain sebagai seorang remaja berandalan dengan motornya, atau mendapatkan narasi baru tentang bagaimana perjuangan seseorang untuk mendapatkan hak yang setara dengan manusia lainnya.

Sisi Dialog Hati Pram

Dialog yang digunakan adalah bahasa Jawa dan Belanda diselingi dengan berbagai dialog-dialog romantis bak mengucapkan tulisan-tulisan Pram menjadi sisi lain dari film ini. Mau tidak mau, pengaruh Iqbaal Ramadhan sebagai Minke mampu menarik perhatian penonton.

Hanya saja, yah kali ini ia tak bergaya remaja ala ’90-an. Namun seorang anak muda yang hidup di masa lalu yang kemudian berjuang melalui pikiran dan bukan lagi dengan rayuan-rayuan gombalnya itu. Meskipun begitu film ini masih relevan dengan kehidupan di masa kini.
Jenjang status sosial yang begitu tinggi dengan terkurungnya pemikiran yang masih subjektif bisa jadi adalah sudut pandang lain yang diambil dari film ini.

Berbagai Macam Sudut Pandang

Memang, tidak semua buah pikiran Pram divisualisasikan di dalam filmnya. Namun, Bumi Manusia versi layar lebar cukup baik dalam memaparkan cerita, tidak terburu-buru ditambah dengan latar masa lalu. Satu hal yang sebenarnya sangat sering dilakukan Hanung Bramantyo ketika membuat film.

Jadi, jika bicara alur cerita dan plot, film ini baik-baik saja. Hanya saja untuk beberapa bagiannya, terasa agak lambat dan mungkin akan memancing kita untuk menguap dan terus menguap. Meskipun cukup baik dalam memaparkan cerita, namun ada sudut pandang lain yang bisa dilihat dari film ini. Penggunaan  bahasa akan menjadi bagian yang bisa dinikmati di dalam film ini.

Daya Tarik Pemeran Hingga Karakter Yang Begitu Kuat
Iqbaal boleh saja punya daya tariknya sendiri. Namun, ada satu pemeran lain yang mencuri perhatian. Ia adalah Sha Ine Febriyanti yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh.

Ine Febriyanti tampil baik memainkan karakter wanita Jawa yang berada dalam fase-fase tersulit dalam hidupnya itu. Keras, namun terus berjuang demi hak-haknya sebagai seorang manusia dan sebagai seorang wanita. Ketika kamera menyorot tatapan matanya itu, penonton sudah langsung bisa merasakan bagaimana karakter ini bisa begitu sangat kuatnya menampilkan perannya.

Tak hanya itu, Ine Febriyanti yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh ini juga berhasil merebut simpati para penonton dengan rumitnya latar permasalahan yang sedang ia hadapi.

[IRH]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini